Myself First

Sinds am not really good to express my feelings by talking, then i really need to write it, lebih ke mungkin untuk saat ini pengen ngobrol ke diri sendiri dan noyor diri sendiri, jadi tulisan ini gua buat dari gua, untuk gua dan oleh gua. Kek dah urgent banget ini, mentok kudu di keluarin, ibarat ASI ini kalo gak dikeluarin bisa mastitis, i know this because am a nurse not because i experienced it before (penting untuk di jelaskan agar supaya, begitulah pokoknya) sebelumnya gua akan warning bahwa disetiap paragraf gua akan membubuhi foto-foto gua buat pemanis belaka. seperti image dibawah ini wkwkwk

Jadi gua iri banget lihat orang-orang yang bisa merasa cukup dengan dirinya sendiri, yang tanki happy dan cintanya pada diri sendiri sangat penuh, yang dunianya adalah dirinya sendiri, orang lain (sahabat, teman, keluarga, pasangan) hanya jadi pewarna dunianya, dia yang nentuin warna apa yang dia suka dan tidak, tegas membuat batas terhadap warna apa yang dia suka yang bikin dia happy, kalau ternyata ada warna yang pada akhirnya tidak cocok dengan dunianya, dia bisa langsung nge cut-off dan fokus ke warna lainnya, tanpa mikir nantinya dia kehilangan warna itu, karena apa? Karena dia sudah cukup dengan dirinya, bukan berarti dia gak perlu orang lain untuk memenuhi dunianya, tapi lebih ke gampang memfilter lingkungannya, yang menjadikan dirinya fondasi untuk dunianya, jadi gada yang bisa bikin dia sepenuhnya runtuh, kehilangan dan ditinggalkan bukan ancaman buat orang-orang macam ini, gada ruang buat orang-orang ini untuk disakiti orang lain, gada ruang buat kecewa dan sedih karena orang lain, standing applause dari gua buat manusia-manusia seperti ini. 

Beda banget sama gua yang sering kali menjadikan orang lain dunia gua, ketika orang lain datang dan gua ngerasa orang ini cocok untuk gua dan bikin gua happy, gua sering kali malah akan adjust diri gua ke orang tersebut, gua bukan menganggap mereka sekadar bagian dari dunia gua, bukan warna, tapi pusat orbit, fondasi dunia gua. Arah senang gua ngikut mereka, kalau mereka terang, dunia gua ikut terang, begitu juga sebaliknya, gua sering kali berdiri dibalik kata tolerance, padahal sudah ngarah ke goblok. Gua lupa kalo orang-orang tersebut juga punya dunia nya sendiri, gua akan merasa ditinggalkan ketika mereka fokus ke dunia mereka yang bukan gua, masalahnya bukan karena gua terlalu cinta, tapi karena gua terlalu menghilang di dalam cinta itu sendiri. Gua sering bilang ke diri gua, “gapapa anjir, gua toleran.” Padahal yang terjadi, gua pelan-pelan ngecilin diri gua sendiri biar muat di dunia orang lain. Diri gua yang lain menyebutnya pengertian, padahal sebenernya itu penghapusan. Gua seketika gasadar kalau hubungan yang sehat itu dua dunia yang berdampingan, bukan satu dunia yang ditinggalkan demi hidup di dunia orang lain. Kadang gua sampai gatau lagi ciri has dunia gua apa, karena setiap ada yang masuk gua akan adjust dan mencoba berbaur dengan dunia mereka, gak punya prinsip, gapunya pendirian.

Makanya setiap kali mereka kembali ke hidup mereka, pekerjaan mereka, mimpi mereka, kesibukan mereka, gua panik. Bukan karena mereka salah, tapi karena gua nggak berdiri di mana-mana. Dunia gua kosong karena gua titipkan ke mereka. Dan sakitnya bukan ditinggal. Sakitnya adalah sadar, kalau gua sendiri yang meninggalkan diri gua lebih dulu.

Sekarang gimana caranya gua gak cuma paham teori TANKI CINTA FULL ini, tapi bisa gua aplikasikan ke hidup gua, gimana caranya gua tetap jadi gua, ga cuma saat gua sendiri, bahkan saat gua cinta, bahkan saat gua bahagia, bahkan saat dunia lagi rame dan hangat.

Ini bukan proses yang sehari jadi, karena setelah sadar, kadang gua kelepasan lagi. Kadang gua balik ke pola lama. Dan kadang gua kesel sama diri gua sendiri, karena orang lain bisa happy dan fokus dengan dunianya tapi kok gua masih berharap orang-orang lain yang harus jadi fondasi dunia gua. Dari dulu gua selalu menganggap diri gua bulan, yang gapunya cahaya sendiri, yang dapat cahaya dan bisa terlihat indah karena sinar dari matahari, orang-orang disekitar gua, gua anggap matahari, gua akan menjadi full moon dan merasa bersinar kalau malam, tapi ketika matahari berhenti bagi sinarnya ke gua (yang bukan berarti dia gamau) tapi emang siklusnya kek gitu, gua akan jadi redup, kek bulan disiang hari, gabakal ada yang sadarin kehadirannya. 

Gua sadar ga? SADAR BANGET!  Dan kesadaran itu nggak datang buat nyakitin, tapi buat ngajarin. Tapi mana ada belajar yang gampang, sekarang gua lagi belajar bagaimana caranya gua nggak lagi menjadikan orang lain poros hidup gua, Bukan karena mereka jahat, tapi karena itu bukan tugas mereka. Karna kebahagiaan gua ya tanggung jawab gua, rasa aman gua. Biar nanti harapannya, kalau ada orang datang dan pergi, gua nggak runtuh, gua cuma menyesuaikan. Karena toh pada akhirnya, dunia gua harus tetap punya poros yang tetap, gak bisa ganti terus menerus,
Dan poros itu…
harusnya gua.

Bagaimana caranya biar gua paham kalo gua boleh cinta. Gua boleh peduli. Tapi gua nggak boleh hilang. Belajar bahwa gua berdiri di dunia gua sendiri dulu, bukan nunggu runtuh buat sadar, bukan nunggu ditinggal buat bangun. Kalau ada orang yang mau jalan bareng, mereka datang sebagai teman seperjalanan, bukan penentu arah. Karena pada akhirnya, orang-orang akan datang dan pergi, bukan karena gua kurang, bukan karena mereka jahat. Tapi karena waktunya udah abis, semua ada expired datenya, karena hidup itu memang bergerak. Dan kalau setiap kepergian harus bikin dunia gua runtuh, berarti gua salah naruh fondasi. Gua gabisa terus hidup dengan menitipkan rasa aman gua di keputusan orang lain. Datang atau pergi itu hak mereka. Tapi utuh atau runtuh itu tanggung jawab gua.

Gimana caranya gua sadar, untuk berhenti membangun rumah di tanah orang lain. Gimana caranya gua bangun dunia gua sendiri, biar nantinya siapa pun yang datang mereka hanya menambah warna, menambah dekorasi, bukan menentukan ada atau nggaknya cahaya. Dan kalau mereka pergi, gua boleh sedih, gua boleh berduka tapi gua gaboleh runtuh. Karena harusnya sebelum siapa pun datang, gua sudah ada. Dan setelah mereka pergi, gua tetap ada.

Btw am fine, gua sekarang lagi jadi bulan dimalam hari, cuma tiba-tiba overthinking kalau emang gua gabisa jadi matahari, gua harus fine untuk jadi bulan di siang hari. Lagi-lagi ini cuma kegelisahan dan teori yang ada di otak gua, yang udah gua pahamin dan pelajarin berjilid-jilid tapi praktiknya gua tetep remed, gua tetep herkansing. HELP!! 

Ifmi NH.
Overthinking disepertiga malam,
Dikediamannya, di Lelystad.
Pukul 02.15 dini hari dahal musti bangun jam 06.00 shift pagi.

bye!

Heading to Barcelona, Spain.

2 thoughts on “Myself First

  1. Hey, I hear you loud and clear. I’m actually in that same phase of rebuilding myself right now.

    I used to think my value came from entertaining others in their world. But when I hit rock bottom, I realized: when the music stops and I’m hurting, the room goes quiet. Not everyone stays.

    That silence taught me a lesson: Self-love isn’t selfish, it’s necessary. I need to be full of love and forgiveness for myself first, so I can truly love my wife and kids. Healing brings wisdom—knowing when to say ‘Yes’ or ‘No’.

    I learned that people don’t just ‘have’ time; they make time for what matters. So now, I set my boundaries early and leave the door open for genuine love. Keep growing, my friend.

  2. Hello, my swimming buddy. Years ago, I had times filled with the same feelings and thoughts. One morning, I woke up with the idea of living like a rose; “To be able to preserve your fragrance without getting caught on thorns” and “To bloom life with kindness, without compromising humanity despite everything.” The thorn is mine, the fragrance is mine, the color is mine, the soil is my source. Just as a rose gives off its fragrance even to the hand that plucks it, I believe that a person should not lose their kindness towards those who harm them, and I am very happy. I am aware that no one can harm my character and feelings. I invite you to share the same advice. Stay happy.

Leave a Reply to pomy suartawa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *